RSS

Dasar-Dasar Evaluasi

Anggi R.A. Putri, S.Pd, Sherli Sri Rejeki, S.Si, dan  Musnaini, S.Si  yang merupakan Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Padang konsentrasi Teknologi Pendidikan Kimia tahun 2010.

 

A. Pengertian Evaluasi Pendidikan

  1. Menurut Bloom (1971), evaluasi adalah pengumpulan kenyataan secara sistematis untuk menetapkan apakah dalam kenyataannya terjadi perubahan dalam diri siswa dan menetapkan sejauh mana tingkat perubahan dalam pribadi siswa.
  2. Menurut Stufflebeam (1971), evaluasi adalah proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikna informasi yang berguna untuk menilai alternative keputusan.
  3. Dalam bukunya Designing Evaluator of Educational and Social Programme, Cronbach (1982) memberikan uraian mengenai prinsip-prinsip dasar evaluasi sebagai berikut:
    • Evaluasi program pendidikan merupakan kegiatan yang dapat membantu pemerintah dalam mencapai tujuanya
    • Evaluasi adalah suatu seni. tidak ada satupun evaluasi yang sempurna, walaupun dilakukan dengan teknuk yang berbeda – beda.
    • Evaluasi merupakan suatu proses terus menerus sehingga didalam proses kegiatannya di mungkinkan untuk merevisi apa bila dirasakan adanya sesuatu kesalahan.

Jadi evaluasi pendidikan adalah kegiatan menilai yang terjadi dalam kegiatan pendididkan. Guru ataupun pengelola pengajaran mengadakan penilaian dengan maksud melihat apakah usaha yang dilakukan melalui pengajaran sudah mencapai tujuan.

B. Measurement, Assessment, Evaluation

  1. Measurement

Menurut Hill (1981:16)  “Measurement is the Assignment of number to attributes of objects, events or people according to rules”. sedangkan menurut Campbell (Guilford, 1954:5) “ Measurement assignment of numerals to objects or events  according to rules”. Menurut Nachmias (1981:131), “Measurement may be viewed as a procedure in which one assing numerals, numbers, or other symbols, to empirical properties according to rules”.

Oleh karena itu sekurang –kurangnya dalam measurement atau pengukuran ada tiga konsep yang perlu diperhitungkan yaitu :

  • Angka atau symbol; yang dapat di olah secara statistik atau dimanipulasi secara matematis seperti 1, 2, 3 dan seterusnya.
  • Penerapan; yang berarti bahwa angka atau simbol itu diterapkan terhadap objek atau kejadian tertentu yang dimaksudkan
  • Aturan; dimaksudkan sebagai patokan tentang benar atau tidaknya tindakan yang dilakukan atau sesuatu kejadian atau object yang dikuasai seseorang.
  1. Assessment

Pada awalnya, istilah assessment banyak digunakan dalam evaluasi untuk mengambil keputusan tentang kebijakan dan perencanaan pendidikan. Assess dapat diartian sebagai proses pengumpulan informasi yang digunakan untuk mengambil keputusan tentang kebijakan pendidikan, mutu proses pendidikan, mutu input dan produk atau tentang penguasaan peserta didik berkenaan dengan sesuatu yang telah ajarkan kepadanya. Dalam assessment, penentuan instrument yang akan digunakan tidak hanya terpaku pada tes tetapi dapat juga menggunakan yang lain misalnya observasi informal, observasi formal, interview dll. Assessment dapat dilakukan terhadap object, kejadian atau peristiwa pendidikan, kualitas dan kuantitas peserta didik, guru, kepala sekolah dan kelompok fungsional lainnya serta mengambil keputusan.

2. Evaluation

Thorndike dan Hagen (1965) dan Ebel (1965) menekankan bahwa evaluasi didasar pada pendapat ahli, ada atau tidak ada data bukan sesuatu yang dipersoalkan. Bloom,Cs (1971 : 8)  dan Wprthen dan Sanders (1973 : 20) menekankan bahwa evaluasi itu merupakan suatu proses sistematis untuk mengetahui bukti dalam menentukan peringkat penguasaan peserta didik dalam belajar dan efektifitas pembelajaran. dari sisi kegiatan belajar mengajar evaluasi merupakan pemberian pertimbangan, nilai dan arti terhadap data atau informasi yang dikumpulkan melalui pengukuran atau assessment. Evaluasi adalah pemberiam makna atau arti terhadap hasil pengukuran dan atau assessment dengan standar sehingga melahirkan keputusan jadi evaluasi itu lebih luas dan lebih komprehensif dari pada pengukuran maupun assessment.

Evaluasi berkaitan erat dengan pengukuran dan penilaian yang pada umumnya diartikan tidak berbeda (indifferent), walaupun pada hakekatnya berbeda satu dengan yang lain. Pengukuran (measurement) adalah proses membandingkan sesuatu melalui suatu kriteria baku (meter, kilogram, takaran dan sebagainya), pengukuran bersifat kuantitatif. Penilaian adalah suatu proses transformasi dari hasil pengukuran menjadi suatu nilai. Evaluasi meliputi kedua langkah di atas yakni mengukur dan menilai yang digunakan dalam rangka pengambilan keputusan.

C. Fungsi  atau Tujuan Evaluasi Pendidikan

  1. Fungsi evaluasi pendidikan dalam kaitannya dengan pengambilan keputusan sebagai penyedia informasi
  • Fungsi Perbaikan

Fungsi perbaikan merupakan salah satu benang merah yang terabaikan selama ini. para pengambil kebijakan lebih banyak melihat kondisi momentum hasil evaluasi dari hasil belajar, namun sangat jarang yang menggunakan sebagai informasi untuk perbaikan pendidikan. ujian akhir nasional sebagian besar sekolah tahun 2003, dibawah 5, bahkan mata pelajaran tertentu mendapat nilai 2 atau 3. namun yang langsung di ubah adalah kurikulum tanpa melihat apa yang sesungguhnya terjadi dan mengapa hal itu terjadi.  Tidak ada evaluasi yang mendalam tentang kurikulum yang sedang berlaku. apakah kurikulum itu sudah dilaksanakan dengan tepat dan benar, mana yang tidak dikuasai, materi apa yang dirasa sulit atau apakah guru telah berfungsi dengan baik sesuai dengan tuntutan kurikulum? informasi itu perlu disediakan dengan melakukan evaluasi pendidikan, sehingga apa yang ingin diperbaiki tergambar dengan jelas.

  • Fungsi pengendalian proses dan mutu pendidikan

Melalui evaluasi pendidikan yang terfokus, terkendali, komprehensif dan terus menerus dapat tersedia informasi untuk mengendalikan mutu pendidikan, karena sesuatu yang salah dalam pelaksanaan dapat diperbaiki dan dibetulkan dalam penyusunan rencana atau pertemuan berikutnya.

  • Fungsi pengambilan keputusan yang berkaitan dengan peserta didik

Berdasarkan hasil evaluasi pendidikan dimungkinkan memberikan berbagai keputusan yang tepat kepada peserta didik, seperti mengidentifikasikan kondisi dan kebutuhan tiap peserta didik dan selanjutnya menyesuaikan perencanaan pembelajaran dengan kebutuhan mereka, menempatkan mereka dalam kelompok belajar, penerapan nilai-nilai siswa untuk tujuan seleksi atau pemahaman siswa dan kemajuan belajar yang dicapainya.

  • Fungsi Akuntabilitas Publik

Pendidik secara moral mendapat mandate dari public untuk membina dan mengembangkan peserta didik seoptimal mungkin melalui pendidikan sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai manusia. Pemerintah sesuai dengan beban tugas kenegaraannya, menyerahkan tugas dan tanggungjawabnya kepada pendidik untuk membantu membina dan mengembangkan warga masyarakat melalui pendidikan dengan kata lain, pendidik meaksanakan tugas mendidik dari public dan pemerintah. Sehubungan dengan itu, pendidik harus mengevaluasi seberapa jauh tugas yang diterimanya telah dilaksanakan dan menyampaikan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas tersebut kepada public.

  • Fungsi Regulasi Administratif tentang sekolah

tidak dapat di abaikan bahwa dengan informasi hasil evaluasi pendidikan akan memberikan regulasi administrative. Seorang pengambil kebijakan dalam bidang pendidikan akan dapat mengatakan bagaimana bagusnya system sekolah A, bagaimana disiplin guru disekolah B, dan bagaimana fasilitas disekolah C, dll.

2. Fungsi Evaluasi Pendidikan menurut Bloom

  • Fungsi diagnostic
  • Fungsi penempatan
  • Fungsi penentuan tingkat keberhasilan
  • Fungsi seleksi

D. Kegunaan Evaluasi Pendidikan

J. Stanley Ahmann dan Marwin D. Glock (1981) menyatakan ada emapat sub kelompok kegunaan evaluasi pendidikan yaitu:

  1. menaksir pencapain akademik pada tiap – tiap peserta didik
  2. mendiagnosis kesukaran – kesukaran belajar tiap – tiap peserta didik maupun kelas
  3. menaksir efektifitas pendidikan dari sisi kurikulum, prosedur pembelajaran, alat bantu material pembelajaran dan pengorganisasian atau pengaturan oerganisasi pembelajaran
  4. menilai kemajuan pendidikan dalam populasi yang luas, seperti menolong memahami masalah–masalah pendidikan dan mengembangkan kebijakan masyarakat dalam pendidikan.

E. Subjek, Objek, dan Ruang Lingkup Evaluasi

  1. Subjek evaluasi dapat dibedakan atas dua jenis ;
  • Evaluator dalam (orang yang ikut terlibat dalam kegiatan)

evaluator dalam sangat memahami seluk beluk kegiatan, tetapi ada kemungkinan dapat dipengaruhi oleh keinginan untuk dapat dikatakan bahwa programnya berhasil. dengan kata lain, evaluator dalam dapat diganggu oleh unsur subjektivitas jika hal itu terjadi, data yang terkumpul kurang benar dan kurang akurat meskipun barang kali cukup lengkap.

  • Evaluator luar ( orang yang tidak ikut terlibat dalam kegiatan program )

Evaluator luar mungkin menjumpai kesulitan dalam memperoleh data yang lengkap karena ada hal-hal yang disembunyikan oleh para pelaksana program. namun data yang terkumpul dapat lebih objektif. berdasarkan klasifikasi tersebut, maka didalam kegiatan belajar mengajar guru dapat dikategorikan sebagai evaluator dalam, guru adalah pelaksana sehingga mereka mengetahui betul apa yang terjadi didalam proses belajar mengajar. untuk memperbaiki proses pengajaran yang akan dilaksanakan lain waktu, guru perlu mengetahui seberapa tinggi tingkat pencapaian dari tugas yang telah dikerjakan selama kurung waktu tertentu. dalam hal ini guru tidak dikhawatirkan akan kurang objektif penilaiannya karena hasil evaluasinya tidak akan dilaporkan atau diketahui oleh siapapun.

2. Objek evaluasi

Untuk dapat mengenal objek evaluasi secara cermat kita perlu memusatkan perhatian kita pada aspek – aspek yang bersangkut paut dengan keseluruhan kegiatan belajar mengajar, untuk itu kita perlu mengenal model transformasi proses pendidikan formal disekolah. Didalam proses trasformasi calon siswa diumpamakan sebagai bahan mentah (Input) maka lulusan dari sekolah itu dapat disamakan dengan hasil olahan yang siap digunakan (Output). Dalam proses trasformasi ini evaluasi dilakukan sebelum, selama dan sesudah terjadi proses dalam kegiatan sekolah.

Jika digambarkan dalam bentuk diagram terlihat sebagai berikut :

   Gambar proses transformasi belajar – mengajar

 

Keterangan,

a)         Input atau masukan

Bakat intelektual merupakan salah satu aspek yang perlu ditelusuri dalam langkah evaluasi. aspek lainya misalnya keadaan fisik seperti kesehatan atau kerentangan seseorang terhadap penyakit. aspek- aspek yang ada pada siswa tersebut perlu dipertimbangkan agar guru dapat menunaikan tugas mengajar dengan baik.

b)        Materi atau kurikulum

Di Indonesia kurikulum berlaku secara nasional. kurikulum ini disusun bersama oleh direktorat yang mengelola jenjang dan jenis sekolah bersama dengan Pusat Pegembengan Kurikulum dan Sarana Pendidikan (Pusbangkurandik) Balitbang Dikbud. Dalam menyusun dan mengembangkan kurikulum baru Balikbang dan Direktorat Pendidikan menyiapakan konsep terlebih dahulu kemudian dalam forum seminar dan lokakarya dikumpulkan orang orang yang dapat memberikan sumbangan pemikiran untuk mengembangkan kurikulum antara lain ; ahli bidang studi, ahli sikologi pendidikan,  ahli metode mengajar dan para guru yang sudah mempraktekkan kurikulum yang sudah digarap tersebut disekolah.

c)         Guru

Guru merupakan komponen penting dalam kegiatan belajar mengajar . kepada guru diserahkan untuk digarap bahan metah berupa siswa yang menginginkan pengetahuan ketelampilan dan sikap-sikap baik yang akan digunakan dalam masa depannya. dengan modal  materi yang tertera sebagai kurikulum guru berupaya agar siswa dapat menguasai apa yang disediakan sekolah untuk nya.

d)        Metode atau pendekatan dalam mengajar

Evaluasi terhadap metode mengajar merupaka kegiatan guru untuk meninjau kembali tentang metode mengajar, pendekatan dan strategi pembelajaran. Metode mengajar adalah cara atau teknik yang digunakan dalam mengajar misalnya; ceramah, Tanya jawab, experiment dan lain-lain. Pendekatan merujuk pada bagaimana kelas dikelola misalnya; individual, kelompok, dan clasikal. strategi pembelajaran merujuk kepada bagaimana guru mengatur keseluruhan proses pelajar mengajar meliputi mengatur waktu, pemenggalan penyajian, pemilihan metode dll.

e)         Saran : alat pelajaran atau media pendidikan

sebelum guru melaksanakan kegiatan mengajar, guru telah memilih alat yang kira-kira dapat membantu melancarkan atau meperjelas konsep yang diajarkan. sasaran evaluasi yang berkenaan dengan saran pendidikan adalah kelengkapannya, ragam jenisnya, kemudahan untuk dioperasikan dan lain-lain.

f)         Lingkungan manusia

yang dapat digolongkan sebagai lingkungan manusia adalah; kepala sekolah, guru-guru, pegawai sekolah, dan orang-orang lain yang dapat memperkuat motivasi siswa dalam belajar.

g)        Lingkungan bukan manusia

termasuk kategori ini misalnya suasana sekolah, halaman sekolah, keadaan gedung, kebun sekolah dan lain-lain.

3. Ruang lingkup evaluasi pendidikan

Ruang lingkup evaluasi pendidikan mencakup : materi yang diberikan dan satuan pelajaran yang disusun, peserta didik, pendidik dan sumber belajar, proses pendidikan, media belajar, dan hasil belajar. dengan demikian, evaluasi pendidikan mencakup evaluasi konteks, evaluasi komponen – komponen proses belajar-mengajar, evaluasi proses dan eavaluasi hasil. disamping itu evaluasi pendidikan juga harus dikaitkan dengan program muatan local atau program tambahan yang lain yang merupakan bagian dari evaluasi pendidikan secara keseluruhan.

Daftar Pustaka

Arikunto Suharsimi. 2004. Evaluasi Program Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara

Yusuf A.Muri.  2005. Evaluasi Pendidikan. Padang: Universitas Negeri Padang

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: